Senin, 13 Oktober 2014

Sejarah Perpustakaan di Indonesia

Sejarah perpustakaan di Indonesia tergolong masih muda jika dibandingkan dengan negara Eropa dan Arab. Jika kita mengambil pendapat bahwa sejarah perpustakaan ditandai dengan dikenalnya tulisan, maka sejarah perpustakaan di Indonesia dapat dimulai pada tahun 400-an yaitu saat lingga batu dengan tulisan Pallawa ditemukan dari periode Kerajaan Kutai. Musafir Fa-Hsien dari tahun 414M menyatakan bahwa di kerajaan Ye-po-ti, yang sebenarnya kerajaan Tarumanegara banyak dijumpai kaum Brahmana yang tentunya memerlukan buku atau manuskrip keagamaan yang mungkin disimpan di kediaman pendeta.

Pada sekitar tahun 695 M, di Ibukota Kerajaan Sriwijaya hidup lebih dari 1000 orang biksu dengan tugas keagamaan dan mempelajari agama Budha melalui berbagai buku yang tentu saja disimpan di berbagai desa. Di pulau Jawa, sejarah perpustakaan tersebut dimulai pada masa Kerajaan Mataram. Hal ini karena di kerajaan ini mulai dikenal pujangga keraton yang menulis berbagai karya sastra. Karya-karya tersebut seperti Sang Hyang Kamahayanikan yang memuat uraian tentang agama Budha Mahayana. Menyusul kemudian sembilan parwasari cerita Mahabharata dan satu kanda dari epos Ramayana. Juga muncul dua kitab keagamaan yaitu Brahmandapurana dan Agastyaparwa. Kitab lain yang terkenal adalah Arjuna Wiwaha yang digubah oleh Mpu Kanwa. Dari uraian tersebut nyata bahwa sudah ada naskah yang ditulis tangan dalam media daun lontar yang diperuntukkan bagi pembaca kalangan sangat khusus yaitu kerajaan. Jaman Kerajaan Kediri dikenal beberapa pujangga dengan karya sastranya. Mereka itu adalah Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang bersama-sama menggubah kitab Bharatayudha. Selain itu Mpu panuluh juga menggubah kitab Hariwangsa dan kitab Gatotkacasrayya. Selain itu ada Mpu Monaguna dengan kitab Sumanasantaka dan Mpu Triguna dengan kitab resnayana. Semua kitab itu ditulis diatas daun lontar dengan jumlah yang sangat terbatas dan tetap berada dalam lingkungan keraton.

Periode berikutnya adalah Kerajaan Singosari. Pada periode ini tidak dihasilkan naskah terkenal. Kitab Pararaton yang terkenal itu diduga ditulis setelah keruntuhan kerajaan Singosari. Pada jaman Majapahit dihasilkan buku Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca. Sedangkan Mpu Tantular menulis buku Sutasoma.

Pada Kegiatan penulisan dan penyimpanan naskah masih terus dilanjutkan oleh para raja dan sultan yang tersebar di Nusantara. Misalnya, jaman kerajaan Demak, Banten, Mataram, Surakarta Pakualaman, Mangkunegoro, Cirebon, Demak, Banten, Melayu, Jambi, Mempawah, Makassar, Maluku, dan Sumbawa. Dari Cerebon diketahui dihasilkan puluhan buku yang ditulis sekitar abad ke-16 dan ke-17. . Perpustakaan mulai didirikan mula-mula untuk tujuan menunjang program penyebaran agama mereka. Berdasarkan sumber sekunder perpustakaan paling awal berdiri pada masa ini adalah pada masa VOC (Vereenigde Oost Indische Compaqnie) yaitu perpustakaan gereja di Batavia (kini Jakarta) yang dibangun sejak 1624. pada abad ke-17 Indonesia sudah mengenal perluasan jasa perpustakaan (kini layanan seperti ini disebut dengan pinjam antar perpustakaan atau interlibrary loan).

Lebih dari seratus tahun kemudian berdiri perpustakaan khusus di Batavia. Pada tanggal 25 April 1778 berdiri Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW) di Batavia. Bersamaan dengan berdirinya lembaga tersebut berdiri pula perpustakaan lembaga BGKW. Pendirian perpustakaan lembaga BGKW tersebut diprakarsai oleh Mr. J.C.M. Rademaker, ketua Raad van Indie (Dewan Hindia Belanda). Ia memprakarsai pengumpulan buku dan manuskrip untuk koleksi perpustakaannya. Perpustakaan ini kemudian mengeluarkan katalog buku yang pertama di Indonesia.

Pada tahun 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan namanya pun diubah menjadi Museum Pusat. Koleksi perpustakaannya menjadi bagian dari Museum Pusat dan dikenal dengan Perpustakaan Museum Pusat. Nama Museum Pusat ini kemudian berubah lagi menjadi Museum Nasional, sedangkan perpustakaannya dikenal dengan Perpustakaan Museum Nasional. Pada tahun 1980 Perpustakaan Museum Nasional dilebur ke Pusat Pembinaan Perpustakaan. Perubahan terjadi lagi pada tahun 1989 ketika Pusat Pembinaan Perpustakaan dilebur sebagai bagian dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Perkembangan Perpustakaan Perguruan Tinggi di Indonesia dimulai pada awal tahun 1920an. Mengikuti berdirinya sekolah tinggi, misalnya seperti Geneeskunde Hoogeschool di Batavia (1927) dan kemudian juga di Surabaya dengan STOVIA; Technische Hoogescholl di Bandung (1920), Fakultait van Landbouwwentenschap (er Wijsgebeerte Bitenzorg, 1941), Rechtshoogeschool di Batavia (1924), dan Fakulteit van Letterkunde di Batavia (1940). Setiap sekolah tinggi atau fakultas itu mempunyai perpustakaan yang terpisah satu sama lain.

Di samping perpustakaan yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda, sebenarnya tercatat juga perpustakaan yang didirikan oleh orang Indonesia. Pihak Keraton Mangkunegoro mendirikan perpustakaan keraton sedangkan keraton Yogyakarta mendirikan Radyo Pustoko. Sebagian besar koleksinya adalah naskah kuno. Koleksi perpustakaan ini tidak dipinjamkan, namun boleh dibaca di tempat. Pada masa penjajahan Jepang hampir tidak ada perkembangan perpustakaan yang berarti. Jepang hanya mengamankan beberapa gedung penting, di antaranya Bataviaasch Genootschap van Kunten Weetenschappen. Selama pendudukan Jepang openbareleeszalen ditutup. Volkbibliotheek dijarah oleh rakyat dan lenyap dari permukaan bumi. Karena pengamanan yang kuat pada gedung Bataviaasch Genootschap van Kunten Weetenschappen, maka koleksi perpustakaan ini dapat dipertahankan, dan merupakan cikal bakal dari Perpustakaan Nasional.

Perkembangan pasca kemerdekaan mungkin dapat dimulai dari tahun 1950an yang ditandai dengan berdirinya perpustakaan baru. Pada tanggal 25 Agustus 1950 berdiri perpustakaan Yayasan Bung Hatta dengan koleksi yang menitikberatkan kepada pengelolaan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Indonesia. Tanggal 7 Juni 1952 perpustakaan Stichting voor culturele Samenwerking, suatu badan kerjasama kebudayaan antara pemerintah RI dengan pemerintah Negeri Belanda, diserahkan kepada pemerintah RI. Kemudian oleh Pemerintah RI diubah menjadi Perpustakaan Sejarah Politik dan Sosial Departemen P & K.

Dalam rangka usaha melakukan pemberantasan buta huruf di seluruh pelosok tanah air, telah didirikan Perpustakaan Rakyat yang bertugas membantu usaha Jawatan Pendidikan Masyarakat melakukan usaha pemberantasan buta huruf tersebut. Pada periode ini juga lahir Perpustakaan Negara yang berfungsi sebagai perpustakaan umum dan didirikan di ibukota provinsi. Perpustakaan Negara yang pertama didirikan di Yogyakarta pada tahun 1949, kemudian disusul Ambon (1952); Bandung (1953); Ujung Pandang (Makassar) (1954); Padang (1956); Palembang (1957); Jakarta (1958); Palangkaraya, Singaraja, Mataram, Medan, Pekanbaru dan Surabaya (1959). Setelah itu menyusul kemudian Perpustakaan Nagara di Banjarmasin (1960); Manado (1961); Kupang dan Samarinda (1964). Perpustakaan Negara ini dikembangkan secara lintas instansional oleh tiga instansi, yaitu Biro Perpustakaan Departemen P & K yang membina secara teknis, Perwakilan Departemen P & K yang membina secara administratif, dan pemerintah daerah tingkat provinsi yang memberikan fasilitas.

Menelusuri Sejarah Perpustakaan Dari Masa Sebelum Masehi Hingga Yunani dan Arab

Perjalanan perpustakaan diperkirakan sudah ada sejak 5000 tahun yang lalu, perpustakaan memiliki beberapa prinsip yaitu diciptakan oleh masyarakat, dipelihara oleh masyarakat, terbuka untuk semua orang, harus berkembang dan pengelolaannya harus orang yang berpendidikan (Lasa, 2009:263). Perpustakaan berasal dari kata pustaka yang artinya kitab atau buku. Perpustakaan dalam bahasa Arab berarti maktabah, bibliotheca (bahasa Italia), bibliotheque (bahasa Perancis), bibliothek (bahasa Jerman), bibliotheek (bahasa Belanda) (Lasa, 2009:262). Akar kata library adalah liber (bahasa latin) artinya buku, sedangkan akar kata bibliotheek adalah biblos yang artinya buku (Yunani), sebagai bentuk lanjut perkembangan kata ini, dalam kehidupan sehari-hari sering dikenal Bible artinya Alkitab. Dengan demikian istilah perpustakaan selalu dikaitkan dengan buku atau kitab. Jadi tidak mengherankan apabila definisi perpustakaan selalu mengacu pada buku dan segala aspeknya (Sulistyo-Basuki, 1994:2).

Sejarah perkembangan perpustakaan telah dimulai jauh sebelum Masehi. Perkembangan perpustakaan diwarnai dengan perkembangan peradaban dan kebudayaan manusia itu sendiri (Nurhadi, 1983:15). Perpustakaan yang kita kenal seperti sekarang ini adalah lebih tua daripada kertas, buku dan mesin cetak. Sebab perpustakaan telah ada jauh sebelum benda-benda tersebut ditemukan orang. Perkembangan perpustakaan diperkirakan diawali dengan berkembangnya budaya dan pengenalan bentuk huruf-huruf sebagai formulasi suara atau bahan komunikasi. Huruf-huruf tersebut kemudian dirangkai menjadi kata-kata yang mengandung arti tertentu. Sementara kata-kata dirangkai menjadi kalimat, kalimat yang sempurna disusun menjadi alinea, tulisan baik berupa artikel, kumpulan tulisan naskah, deskripsi maupun buku sebagai formulasi yang lengkap. Pada awal mulanya koleksi perpustakaan terdiri dari tulisan-tulisan pada papirus, perkamen, daun lontar, tablet tanah liat, gulungan-gulungan tulisan dan benda-benda lain. Berbagai macam tulisan itulah yang dikumpulkan, disimpan, dan dipergunakan oleh masyarakat sebagai sumber ilmu pengetahuan dan informasi bagi masyarakat. Hal tersebut kemudian berproses dan berkembang secara bertahap sesuai dengan perkembangan kebudayaan manusia yang kemudian perkembangan perpustakaan dapat kita lihat dan digunakan seperti sekarang ini. Dengan melihat perkembangan perpustakaan dapat dikatakan bahwa perpustakaan menjadi rantai masa lalu, pijakan bagi kehidupan manusia di masa sekarang dan merupakan pembimbing untuk melangkah ke masa depan (Sutarno, 2006:13-15). Sejarah mencatat, bahwa terdapat sejumlah perpustakaan yang pernah didirikan oleh manusia yaitu:


1. Masa Sebelum Masehi
Perpustakaan yang paling awal ada di kota Nivine dibangun sekitar tahun 669-636 SM. Kemudian perpustakaan kerajaan Babylonia dan Assyria yang memiliki kira-kira 10.000 bahan pustaka berupa tablet tanah liat karya Raja Ashurbanipal Raja Assyiria. Selanjutnya perpustakaan di kuil Horus, Mesir yang didirikan sekitar tahun 337 SM yang koleksinya berupa gulungan papirus yang berisi tentang ilmu astronomi, agama dan perburuan (Sutarno, 2003:3).

2. Masa Yunani Kuno
Peradaban Yunani mengenal tulisan Mycena sekitar 1500 SM, kemudian tulisan tersebut lenyap. Sebagai penggantinya, orang Yunani menggunakan 22 aksara temuan orang Phoenicia, kemudian dikembangkan menjadi 26 aksara seperti yang kita kenal sekarang. Perkembangan perpustakaan Yunani mencapai puncaknya pada masa Abad Hellenisme yang ditandai dengan penyebaran ajaran dan kebudayaan Yunani. Perpustakaan yang terkenal adalah perpustakaan Alexandria yang memiliki 700.000 gulungan koleksi pada abad pertama SM yang koleksinya adalah teks Yunani dan manuskrip segala bahasa dari semua penjuru dunia. Semua gulungan papirus ini disunting, disusun menurut bentuknya, dan diberi catatan untuk disusun menjadi sebuah bibliografi sastra Yunani yang semuanya itu disusun oleh semua pustakawan perpustakaan Alexandria yang mereka adalah ilmuwan ulung yang ahli dalam bidangnya (Sulistyo-Basuki, 1991:23).

3. Masa Roma dan Byzantium
Kebudayaan Yunani mempengaruhi kehidupan budaya orang Roma, ini terbukti banyak orang Roma yang mempelajari sastra, filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani. Pada waktu itu, Julius Caesar memerintahkan agar perpustakaan terbuka untuk umum, sehingga perpustakaan tersebar ke seluruh kerajaan Roma. Saat itu, muncul bentuk buku baru yaitu codex yang merupakan kumpulan parchmen, diikat serta dijilid menjadi satu seperti buku yang kita kenal sekarang. Codex digunakan secara besar-besaran pada abad ke-4. Perpustakaan Roma mengalami kemunduran tatkala kerajaan Roma mulai mundur, perpustakaan lenyap karena serangan orang-orang barbar yang tersisa hanya perpustakaan biara.

Ketika Kaisar Konstantin Agung menjadi raja Kerajaan Roma Barat dan Timur pada tahun 324. Raja memilih ibukota di Byzantium, yang diubah menjadi Konstantinopel yang kemudia didirikan perpustakaan kerajaan yang menekankan karya Latin karena bahasa Latin menjadi bahasa resmi hingga abad ke-6. Koleksi perpustakaan menjadi bertambah dengan adanya karya Kristen dan non-Kristen baik dalam bahasa Yunani maupun Latin yang mencapai 120.000 buku (Sulistyo Basuki, 1991:23-24).

4. Masa Arab
Agama Islam muncul pada abad ke-7 yang kemudian Islam menyebar kedaerah sekitar Arab dan dengan cepat pula pasukan Islam menguasai Syria, Babylonia, Mesopotamia, Persia, Mesir, seluruh bagian utara Afrika serta sampai di Spanyol. Dalam abad ke-8 dan ke-9, ketika Konstantinopel mengalami kemandegan dalam karya sekuler, maka Baghdad berkembang menjadi pusat kajian karya Yunani. Ilmuwan Muslim mulai mempelajari dan menerjemahkan karya filsafat, pengetahuan, dan kedokteran Yunani ke dalam bahasa Arab, juga dari versi bahasa Syriac ataupun Aramaic (Sulistyo-Basuki, 1991:24) .

Perpustakaan pada waktu itu, disamping menjadi tempat penyimpanan buku dan pelayanan publik, juga berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan pengetahuan. Perpustakaan yang terkenal yaitu perpustakaan Bait al-Hikmah yang mengalami masa kejayaan pada pemerintahan Khalifah al-Ma’mun pada tahun 815 Masehi (Qalyubi dkk, 2007:51). Kemunduran perpustakaan diawali dengan kevakuman dan kemunduran Islam, juga karena serangan dari pihak musuh-musuh Islam seperti tentara Mongol dan Tar-Tar yang merampas dan menghancurkan perpustakaan Islam, sehingga perpustakaan hancur dan umat Islam mengalami kemerosotan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang sangat signifikan.


Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sejarah perpustakaan dari masa ke masa, banyak terjadi perubahan yang menghambat dan menguntungkan dalam proses perkembangan sebuah perpustakaan. Perpustakaan mencerminkan kebutuhan sosial, ekonomi, kultural dan pendidikan suatu masyarakat (Sulistyo-Basuki, 1991:25). Sehingga perkembangan sebuah perpustakaan, tidak terlepas dari perkembangan masyarakat itu sendiri, karena kondisi perkembangan masyarakat sangat mempengaruhi perkembangan sebuah perpustakaan.





Daftar Pustaka

Lasa Hs. 2009. Kamus Kepustakawanan Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.

Laugu, Nurdin.2011. Islam dan Ilmu Keadaban: 50 Tahun Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta: Fakultas Adab dan Ilmu Budaya dan Penerbit Belukar.

Nurhadi, Muljani A. 1983. Sejarah Perpustakaan dan Perkembangannya di Indonesia. Yogyakarta: Andi Offset.

Qalyubi, Syihabuddin, dkk (Ed). 2007. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sulistyo-Basuki. 1994. Periodesasi Perpustakaan Indonesia. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sutarno. 2003. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

______.2006. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: Sagung Seto.

______.2008.1 Abad Kebangkitan Nasional 1928-2008 & Kebangkitan Perpustakaan. Jakarta: Sagung Seto.